PILKADES Ala Kampung Demokrasi Desa Kiarasari

KOPEL ONLINE – Bogor, Ada lima calon Kepala Desa Kiarasari yang akan berebut kursi Kepala Desa Kiarasari periode 2019-2025. Mereka akan dipilih oleh masyarakat Kiarasari pada hari Minggu 3 November 2019. Namun, spanduk dan baliho mereka sudah tidak tampak lagi saat pagi ini kami masuk dipintu gerbang Desa Kiarasari.

Tidak nampak hiruk pikuk warga maupun para tim sukses calon Kepala Desa saat Tim KOPEL Indonesia menyusuri jalanan protokol desa menuju Kampung Cibuluh, kampung dimana KOPEL mulai merintis Kampung Demokrasi. Di kampung inilah terdapat area lokasi camping dan tempat diskusi warga dan para aktivis demokrasi di Bogor dan Jakarta yang rintis oleh KOPEL Indonesia.

Tidak lama berselang setelah Desa Kiarasari mendeklarasikan diri sebagai kampung demokrasi dan desa anti politik uang sebuah perhelatan demokrasi akbar digelar, yaitu pemilihan kepala desa. Inilah momentum untuk melihat apakah nilai-nilai demokrasi dan anti politik uang terus berjalan di Desa ini.

Pertemuan dengan warga Desa Kiarasari dan mantan kepala desa Kiarasari, Nurodin sore tadi (Sabtu, 2/11/2019) membuahkan cerita menarik tentang praktek demokrasi yang dilakukan menjelang pemilihan Kepala Kiarasari.

Persis apa yang terlihat saat kami memasuki batas desa ini, Mang Anung, tokoh masyarakat Kampung Cibuluh, menuturkan “suasana desa ini biasa-biasa saja. Mungkin tidak sama desa-desa lainnya menjelang pemilihan kepala desa. Tinggal satu hari pemilihan, tapi disini kelihatan adem ayem saja seperti hari-hari biasa. Bukannya masyarakat tidak peduli dengan Pilkades ini justru karena pedulinya sehingga tidak ada hiruk pikuk”, kata Mang Anung.

“Menarik. Apa yang sedang terjadi?” kata Tim KOPEL. “Inilah efek dari deklarasi Kampung Demokrasi dan Anti Politik Uang setahun yang lalu” Kata Nurodin, mantan Kades Kiarasari yang terpilih sebagai anggota DPRD Kabupaten Bogor.

Perbincangan semakin menarik. Nurodin menyambung pernyataannya “Bibit demokrasi yang sudah tumbuh di masyarakat dan kemudian ditambah adanya Kampung Demokrasi di desa ini membuat semakin menguatnya praktek demokrasi di masyarakat dan bahkan semakin sehat. Dari sisi proses dalam Pilkades ini malah warga yang menyepakati sejumlah tahapan yang baik. Masa kampanye misalnya, panitia menetapkan jadwal dan tempat kampanye bersama. Tidak ada kampanye sendiri-sendiri dan arak-arakan pendukung. Para kandidat sebanyak 5 orang difasilitasi keliling ke RT-RT secara bersamaan untuk menyampaikan visi misi mereka dihadapan warga. Semua RT di datangi oleh calon secara bersamaan. Di situpun warga secara bebas memberi pertanyaan dan pendapat terhadap visi misi calon” Kata Nurodin.

Setelah itu mereka juga difasilitas oleh panitia untuk saling bedah visi misi dalam forum debat yang diadakan di kantor desa. Di sini serunya, karena mereka saling beradu pendapat seperti yang ada di telivisi. Bahkan masyarakat juga bebas bertanya. Dan setelah itu bersama-sama membuat pernyataan kampanye damai.

Pelatihan saksi juga disiapkan oleh panitia meskipun mereka utusan dari para calon. Namum mereka dikumpulkan bersama dalam satu pelatihan bersama. Masing-masing calon memiliki 4 orang saksi. Perilaku money politic yang kemunkinan muncul dari para calon sudah antisipasi oleh panitia. Secara bersama-sama para calon sudah menyepakati tidak ada money politic. Mereka sepakat membuat aturan sanksi diskualifikasi bagi kandidat yang money politic” tambah Nurodin.

Mang Anung, menimpali, “Di kepanitiaan juga harus adil, sehingga dari awal yang duduk di kepanitiaan merupakan usulan dari warga tingkat RW. Mereka dipilih terlebih dahulu oleh warga di tingkat RW. Lalu kemudian ditetapkan menjadi panitia”.

Benar, ini buah dari Kampung Demokrasi. Kisah warga desa yang mempraktekkan demokrasi secara sehat. Dan bahkan mampu menerjemahkan dalam proses yang fair tanpa konflik dan politik uang. Besok mereka menunggu hasil terbaik dari demokrasi mereka. Tentu proses tidak akan mengkhianati hasil. Semoga.

Kami pun pamit dan saling berjabat tangan sambil berujar kita akan bertemu kembali.

Sebelum menutup tulisan, pesan whatsapp masuk dari Kang Rojak, Ketua Panitia Pilkades Kiarasari. Dia mengirim foto-foto saat debat kandidat pada tanggal 29 Oktober 2019 lalu dan sebuah pesan singkat “proses Pilkades yang diinisiasi warga dan panitia ini adalah cara untuk menguatkan visi misi calon dan menghindari money politic”.

Wassalam
Anwar Razak
Bogor, 2 November 2019

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Rapor Merah, Sulsel Darurat Keterbukaan Informasi Publik

Mon Nov 4 , 2019
KOPEL ONLINE – Makassar, Tim Akses Dokumen Komite Pemantau Legislatif menilai Pemerintah Provinsi Sulawesi Selatan masih setengah hati dalam menerapkan keterbukaan informasi. Hal ini di ungkapkan oleh tim media akses dokumen melalui rilis, Ocha selaku kordinator tim akses dokumen. Senin (04/11/2019). Ocha menjelaskan, bahwa dokumen public seperti APBD sangat susah […]