Panitia Angket DPRD: Bupati Jember Diduga Terlibat Korupsi Pasar Manggisan

KOPEL ONLINE – Jakarta, Muhammad Fariz Nurhidayat (30 tahun), salah satu tersangka kasus korupsi proyek Pasar Manggisan, di Jember, dimintai keterangan oleh Panitia Angket DPRD Jember. Dari dalam bui Lapas Jember, Fariz blak-blakan menyebut keterlibatan sejumlah nama pejabat Pemkab Jember dalam proyek yang terindikasi korupsi.

Bahkan Fariz menyebut, ada jatah fee sebesar 10 persen dari setiap proyek, untuk disetor kepada bupati Jember, dr Faida MMR. Testimoni tu disampaikan Fariz di bawah sumpah, kepada Panitia Angket DPRD Jember yang memeriksanya hari Kamis (6/1) ini, terkait sejumlah proyek di Pemkab Jember.

“Keterangan yang diberikan tersangka Fariz ini cukup penting karena ada unsur-unsur yang terkait pidana,” kata Ketua Panitia Angket DPRD Jember, Tabroni saat keluar dari dalam Lapas.

Namun Tabroni enggan menyebut detail keterangan Fariz tersebut. “Mohon maaf, belum bisa kita buka sekarang karena ini nanti akan menjadi bagian dari rekomendasi Panitia Angket untuk diteruskan kepada aparat penegak hukum,” ujar Tabroni.

Panitia Angket hari ini memang mengunjungi Fariz yang dititipkan kejaksaan di dalam Lapas Jember sejak sekitar pukul 10.00 WIB. Pertemuan berlangsung selama berjam-jam.

Keterangan blak-blakan disampaikan oleh Wakil Ketua Panitia Angket, David Handoko Seto yang baru keluar dari dalam Lapas, sekitar pukul 14.10 WIB.

“Ada banyak hal yang kita temukan, di antaranya soal pengondisian (pemenang lelang proyek) dan soal pinjam bendera,” ujar David.

Rapat pengondisian selalu dirapatkan di Pendopo Wahyawibawa Graha atau rumah dinas Bupati Jember. “Rapat selalu diikuti bupati,” ujar David menirukan pengakuan Fariz.

Dalam setiap rapat pengondisian sebelum lelang proyek, selalu melibatkan beberapa nama pejabat, yakni Achmad Imam Fauzi (Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) Jember); Yessiana Arifa (Kepala Dinas Pekerjaan Umum, Bina Marga dan Sumberdaya Air (DPUBMSDA) Jember); dan Danang Andriasmara (Kabag Umum Pemkab Jember).

“Patut diduga, bupati mengarahkan secara langsung pengadaan barang dan jasa. Atau desainnya atas arahan bupati,” ujar politikus berlatar belakang mantan jurnalis ini.

Sebagai catatan, Achmad Imam Fauzi dan Yessiana Arifa, sudah diperiksa penyidik Kejari Jember pada Rabu (4/2) kemarin. Adapun Danang diperiksa pada Kamis (5/2) kemarin. Mereka semua diperiksa sebagai saksi dalam kasus Pasar Manggisan.

Terkait pinjam bendera dalam proyek, hal itu dilakukan oleh Sugeng Irawan Widodo alias Dodik, atasan Fariz di perusahaan yang mengerjakan sejumlah proyek Pemkab Jember. Seperti Rehab kantor kecamatan, pembangunan puskesmas pembantu (pustu) dan Ruang Terbuka Hijau (RTH). Proyek RTH ini hingga kini masih mangkrak.

“Dia bersumpah, bahwa dia hanya karyawan dengan gaji tidak lebih dari Rp 5 juta sejak tahun 2017. Kami jadi bersimpati, menurut kami, dia layak jadi Whistle Blower,” jelas David.

Seluruh aliran dana yang masuk ke rekening Fariz, diklaim tidak dinikmati oleh Fariz. Seluruhnya disetor kepada Dodik.

“Ada statemen menarik yang harus digarisbawahi. Dari sekian banyak uang yang dikumpulkan, 10 persen adalah hak bupati. Ini memang masih butuh pembuktian yang itu menjadi ranah APH (Aparat Penegak Hukum),” ujar David.

Nama Fariz memang disebut-sebut dalam sejumlah proyek bermasalah di Pemkab Jember. Kepada panitia angket, Fariz mengaku dekat dengan Faida karena sebelumnya dia menggarap sejumlah pengerjaan di dua rumah sakit milik Faida.

“Dia jadi konsultan perencana dan rekanan di Rumah Sakit Bina Sehat (RS BS) Jember dan Rumah Sakit Al-Huda Banyuwangi. Dua rumah sakit itu sebagaimana kita tahu, memang milik bu Faida sebelum jadi bupati. Dari situ Fariz kenalnya,” ungkap David.

Atas pengakuan Fariz tersebut, panitia angket akan mengkonfirmasi kepada sejumlah nama birokrat yang disebut terlibat. Termasuk juga bupati Jember, dr Faida.

“Datang atau tidak datang, tidak masalah bagi kami. Karena hasil dari penyelidikan akan jadi bahan rekomendasi di paripurna untuk kemudian diteruskan ke aparat penegak hukum,” ujar David.

Usai menemui Fariz, panitia angket melanjutkan menemui mantan Kepala Dinas Perindustrian dan Perdagangan (Disperindag) Jember, Anas Ma’ruf. Hingga berita ini diturunkan, pertemuan masih berlangsung di dalam Lapas.

Anas menjadi tersangka pertama sekaligus satu-satunya birokrat Pemkab Jember yang terjerat kasus korupsi Pasar Manggisan. Beberapa hari sebelum ditetapkan sebagai tersangka, Anas dimutasi dari jabatan Kadisperindag menjadi Kepala Dinas Pariwisata.

Jawaban Bupati Jember

Dikonfirmasi melalui pesan singkat, Faida membantah semua tuduhan tersebut. Namun Faida tidak merespon detail soal tuduhan tersebut.

“Saya tidak perlu merespon secara berlebihan semua tuduhan di luar proses hukum. Komitmen saya dalam menjalankan pemerintahan secara tegak lurus, tidak akan berubah,” tutur Faida dalam pesan WA.

Secara implisit, Faida menyebut semua tuduhan terhadap dirinya, bernada politis.

“Saya juga ingatkan kepada pihak-pihak tertentu, agar dalam kompetisi politik menghindari fitnah. Karena jika terbukti fitnah, penyebarnya dapat dimintai pertanggungjawaban secara hukum,” pungkas Faida. [rnd]

Sumber : Merdeka.com

admin

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Next Post

Komisi XI DPR Bakal Panggil Tersangka Kasus Jiwasraya

Thu Feb 6 , 2020
KOPEL ONLINE – Jakarta, Panitia Kerja (Panja) Jiwasraya Komisi Hukum DPR akan memanggil para tersangka dan Kejaksaan Agung untuk menanyakan proses hukum kasus gagal bayar asuransi pelat merah Jiwasraya. Wakil Ketua Komisi III Adies Kadier mengatakan, Panja sudah mengagendakan memanggil pihak kejaksaan pada 13 Februari mendatang. “Rencananya tanggal 13 kami akan memanggil […]